Kamis, 09 April 2009

Contoh Surat Lamaran

Petra Muster

Musterstrasse 1

9999 Musterdorf

                                                                                                   Mustermann AG

                                                                                                   Herr Peter Mustermann

                                                                                                   Mustermanngasse 1

                                                                                                   8888 Musterstadt

Musterdorf, 29. August 2002

 

Bewerbung als Produktspezialistin im Aussendienst

Sehr geehrter Herr Mustermann

Ihre Stellenausschreibung im Tages-Anzeiger vom 27. August 2002 hat mein Interesse ge­weckt. Zur Zeit bin ich daran, den nächsten Schritt in meiner beruflichen Zukunft zu realisieren. Aus diesem Grund bewerbe mich um diese Stelle.

Dank meiner erfolgreichen mehrjährigen Aussendiensttätigkeit in einem Pharma­-Unterneh­men bin ich mit diesem Kundensegment bestens vertraut. Folgende Aufgaben gehörten zu meinem Ver­antwortungsbereich:

·      Vorstellung, Verkauf und Schulung von diagnostischen wie auch pharmazeutischen Produk­ten

·      Selbständige Betreuung der Kunden im zugeteilten Verkaufsgebiet

·      Selbständige Akquisition von Neukunden

Ich wünsche mir eine Aufgabe, in welcher ich meine besonderen Stärken wie Freude am Kun­den­kontakt, Selbständigkeit, Initiative und Wille zum Erfolg nutzbringend für meinen neuen Arbeitge­ber und meinen neuen Kunden einsetzen kann.

Ich bin überzeugt, gute berufliche und persönliche Voraussetzungen für eine erfolgreiche Zu­sammenarbeit in Ihrem Unternehmen mitzubringen. Gerne gebe ich Ihnen in einem persönli­chen Gespräch noch mehr Auskunft über meine Person, meine beruflichen Erfahrungen und Zielsetzungen.

Ich freue mich auf Ihre Ant­wort und wünsche Ihnen zwischenzeitlich schöne Sommertage.

 

Mit freundlichen Grüssen

 


Petra Muster

Bijak?

(Bagi siapapun yang besedia meluangkan waktu untuk sejenak merenung)

 

Apa sih, sebenarnya makna kata bijak? Adakah definisi yang pasti dari kata itu? Secara pasti saya berani katakan tidak karena bijak bukan hasil perkalian ataupun pembagian. Singkatnya, definisi kata itu hanyalah persepsi yang bisa sangat beraneka tergantung orang yang menilai.

Setelah sampai pada masalah persepsi, lahan bahasannya pun jadi semakin luas. Namun paling tidak,  kalupun persepsi itu bisa sangat banyak macamnya. Dalam menentukan sebuah definisi, manusia pasti memiliki satu acuan yang relatif serupa sehingga makna yang tercipta tidak akan terlalu jauh berbeda. Mulai pusing? Ok! Kita kembali ke kata bijak. Satu hal yang sangat disayangkan ketika kita ternyata lebih menyepadankan kata bijak dengan hal-hal yang terkesan nyaman, tidak memusingkan, indah dipandang, merdu didengar, dan pokoknya yang enak-enak dirasa. Begitukah?

Mungkin saya tak berhak mengatakan bahwa pendapat itu salah. Karena kembali, masalah ini tak dapat dianalogikan dengan masalah 2x2 = 4. Sebenarnya saya sepakat ketika kita beranggapan bahwa acuan kata bijak adalah hal-hal yang mengarah kepada sesuatu yang baik. Tetapi saya benar-benar tak yakin jika kata bijak disepadankan dengan hal-hal yang nyaman. Pernahkah terpikir di benak kita tentang kebijakan apa yang diambil Khidir, seorang nabi yang sengaja membocori kapal yang tengah ia tumpangi? Bahkan ia juga diriwayatkan membunuh seorang anak laki-laki yang di mata kita belum jelas salahnya.

Terlalu jauhkah, analogi itu? Bisa jadi. Lalu bagaimana dengan keputusan dokter mengamputasi bagian tubuh pasien untuk mencegah tersebarnya penyakit atau kebusukan ke bagian tubuh lain yang masih sehat? Masihkah dianggap sebuah kejahatan? Bebas. Namun, kalaupun mata kita terletak di depan, apakah kita tak bisa melihat lebih luas ke sisi kiri, kanan, atas, dan bawah untuk mencari satu rahasia yang mungkin tidak selalu terletak di hadapan kita?

Setidaknya, pesan yang terkandung dari uraian di atas tak lain adalah kesadaran. Kesadaran yang perlu kita tumbuhkan saat berhadapan dengan hal-hal yang belum kita pahami, kesadaran untuk tidak berkesimpulan subjektif sebelum mengerti maksud orang lain, kesadaran untuk tidak berpresepsi negatif sebelum yakin persepsi orang tersebut jelek, dan kesadaran untuk menghargai sebelum merasa berhak untuk dihargai.

Sekian saudaraku, tulisan ini hanyalah hasil renungan dari penulis yang selalu tertarik untuk memikirkan hal-hal baru yang menurutnya layak untuk dikaji. Maaf! Jika dari tulisan ini muncul kesan sok tahu, sombong, menggurui, dan sebagainya. Mudah-mudahan tidak karena bukan itu maksud dari tulisan ini. Bahkan jika ada persepsi lain, saya hargai andai ada orang yang tertarik untuk bertukar pikiran tanpa kesan terprovokasi oleh secarik kertas ini.

 

Billahi fi sabilil haq! Wassalamu alaikum Wr. Wb!

 

 

                                                                                                                        Salma Karami

                                                                                                                       

 


Rabu, 18 Maret 2009

Psikologi Perkembangan Remaja

Psikologi Perkembangan Masa Remaja (Adolescence)

Masa Remaja menunjukan masa transisi dari masa kanak-kanak kemasa dewasa. Suatau tahap transisi menuju ke status orang dewasa mempunyai beberapa keuntungan. Tahap transisi memberi remaja itu suatu masa yang lebih panjangt untuk mengembangkan berbagai keterampilan serta untuk mempersiapkan masa depan, tetapi masa itu cendrung menimbulkan masa pertentangan (konflikkebimbangan antara ketergantungan dan kemandirian1. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari umur tiga belas sampai enam belas tahun atau tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia enam belas atau tujuh belas sampai usia delapan belas tahun, yaitu usia matang secara hukum. Awal usia rremaja biasanya disebut sebagai usia belasan. Meskipun remaja yang lebih tua sebenarnya masih tergolong anak belasan tahun sampai ia mencapai usia dua puluh satu tahun , namun stilah usia belasan tahun yang secara popular dihubungkan dengan pola perilaku khas remaja tersebut. Biasanya disebut pemuda pemudi atau disebut kawula muda, yang menunjukan bahwa masyarakat belum melihat adanya perilaku yang matang selama awal masa remaja2.